Wednesday, June 7, 2017

Gaya Permainan Yang Cocok Untuk Timnas Indonesia

Sepakbola modern menuntut pemain untuk memiliki kemampuan teknik dan kekuatan fisik yang prima, karena dalam sepakbola modern pergerakan pemain saat tidak memegang bola sangat penting. Pemain dituntut untuk terus bergerak membuka ruang dan melepaskan diri dari pengawalan lawan, hal tersebut bermaksud untuk memudahkan pemain yang sedang menguasi bola melepaskan umpan.
Selain taktik, teknik dan fisik, sepakbola modern juga harus ditunjang dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu seberapa jauh sepakbola Indonesia dalam menerapkan permainan sepakbola modern? Jika kita kembali ke belakang, ternyata kita juga pernah mempunyai timnas yang tangguh dengan menerapkan sepakbola modern, dan sepertinya gaya permainan tersebut diadopsi dari Eropa Timur, tepatnya dari Maslov dan Lobanovsky. 
Viktor Maslov : Pressing Football
Viktor Maslov dikenal dalam dunia sepakbola sebagai bapak pressing football. Strategi pressing footbaal yang dikembangkannya pada tahun 1960-an sampai saat ini masih diterapkan oleh beberapa pelatih di berbagai belahan dunia.
Sepakbola menekan yang ditemukan oleh Maslov mengubah kecenderungan pola permainan pada era tersebut. Dimana pada era tersebut sebuah tim cenderung memberi ruang dan waktu kepada lawan untuk menguasai bola.
Namun Maslov berani melakukan revolusi dalam taktik sepakbola. Di mata Maslov, sebuah tim harus menekan dan tidak boleh memberikan ruang gerak pada lawan, bahkan para pemain harus menekan sejak wilayah pertahanan lawan. Strategi pressing football ini membutuhkan taktik dan level fisik tingkat tinggi.
Kehebatan taktik bisa dibangun lewat hubungan yang tersinergi antara strategi pelatih dan skill pemain. Maslov sebagaimana pelatih eropa timur lainnya mempunyai karakter tegas dan disiplin. 
Sementara untuk urusan fisik agar mencapai level fitness tingkat tinggi bisa dibangun lewat pemberian nutrisi yang cukup serta latihan fisik yang keras, disiplin, dan intensif.
Hasilnya, dengan strategi pressing football tersebut Maslov sukses memberikan prestasi besar bagi Dynamo Kiev. Dalam kurun tahun 1965-1968, Dynamo Kiev meraih 3 gelar liga Uni Soviet dan 2 gelar Piala Uni Soviet. Temuan Maslov ini kemuadian menjadi perubahan taktik yang paling penting dalam era tersebut. Strategi sepakbola menekan pula yang menjadi fundamen total football Ajax dibawah Rinus Michels dan dream team AC Milan di bawah Arrigo Sacchi.

Valery Lobanovsky : Football and Sains
Valery Lobanovsky adalah sosok pelatih legendaris yang terkenal dengan penemuan gemilangnya tentang sepakbola berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan menggabungkan antara sepakbola dan sains, Lobanovsky mempersembahkan sederet prestasi bagi Dinamo Kiev dan tim nasional Uni Soviet yang diasuhnya.
Dinamo Kiev dibawanya berjaya di Eropa dengan merebut Piala Winners 1975 dan 1986. Trofi Piala Winners 1975 menjadikan Dinamo Kiev sebagai klub pertama di Uni Soviet yang mampu meraih trofi Eropa.  
Di level timnas, pada tahun 1988 Lobanovsky membawa Uni Soviet lolos ke final Piala Eropa sebelum ditaklukkan Belanda. Timnas Uni Soviet saat itu diperkuat para pemain yang dipilih berdasarkan performa dalam tes komputer.
"Hal yang paling penting dalam sepak bola modern adalah apa yang dilakukan pemain di lapangan ketika dia tidak sedang memegang bola, bukan sebaliknya," kata Lobanovsky soal filosofi dasar permainan bola yang dianutnya.
Dalam sepakbola modern, pemain tidak boleh berlama-lama memegang bola, pemain dituntut untuk mengalirkan bola dengan cepat. Pemain sudah harus tahu ke mana mengumpan, sebelum dia menerima bola. Untuk dapat mempunyai kemampuan seperti ini, seorang pemain harus dapat mengingat pola pergerakan permainan yang diasah ketika latihan. Saat pemain berdiri tanpa bola, pemain harus bisa berlari sesuai pola, sesuai kebiasaan.
Pergerakan pemain dipantau dalam layar komputer yang dibagi dalam sembilan kotak bujur sangkar. Kotak itu bertujuan untuk mengukur seberapa sering seorang pemain masuk ke kotak lain, lalu siapa yang menggantikan ketika dia meninggalkan kotak, serta seberapa banyak pemain itu memegang bola atau tanpa bola di satu kotak.
Pergerakan pemain dalam kotak-kotak tersebut kemudian dibuat dalam sebuah skala yang bertujuan untuk menghitung kemampuan pemainnya dalam 5 ukuran penilaian yaitu intensitas, aktivitas, efektivitas, tingkat kesalahan serta realisasi. Nilai tiap pemain dalam setiap ukuran kinerja kemudian menjadi tolak ukur Lobanovsky dalam menentukan siapa layak bermain di lapangan.

Anatoli Polosin : Timnas Indonesia 1991
Tahun 1991, Anatoli Polosin menggembleng fisik pemain timnas dengan sangat keras. Beberapa pemain bintang kabur karena tak kuat. Pemain lain banyak yang muntah-muntah. Sport science juga sudah diterapkan Polosin. Statistik permainan seperti jumlah umpan antar pemain dihitung. Standar VO2Max diperhatikan agar pemain bisa tampil maksimal selama 90 menit. Vo2Max adalah volume maksimal oksigen yang diproses tubuh manusia saat melakukan kegiatan intensif. Vo2Max menjadi indikator untuk mengukur kemampuan tubuh.
Hasil latihan keras itu berbuah emas SEA Games 1991, gelar internasional terakhir yang pernah dicapai timnas senior.

Indra Sjafri : Timnas U-19
Timnas Indonesia
Metode yang sama kembali diterapkan oleh Indra Sjafri. Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri di tahun 2013 sukses menjadi juara Piala AFF U-19 dan lolos ke putaran final Piala Asia U-20 setelah mengalahkan korea selatan 3-2 dalam penyisihan grup, kesuksesan itu tidak lepas dari gemblengan fisik dan sport science. 
Rata-rata Vo2Max para pemain timnas u-19 saat itu adalah 55, namun ada pula yang mencapai 60. Dengan standar tersebut, mereka mampu tampil optimal sepanjang 90 menit. Gizi dan nutrisi juga diperhatikan serius. Statistik permainan menjadi bahan evaluasi tim. Lebih penting lagi adalah kedekatan pelatih dan pemain sehingga instruksi apapun mudah diimplementasikan di lapangan.
Tahun 2017, Indra Sjafri kembali ditunjuk untuk menangani Timnas U-19 dan tidak mengubah gaya permainan di tahun 2013 silam.

Contoh pola latihan serta strategi kedua tim beda generasi ini sebenarnya menunjukkan bagaimana cara yang tepat dalam menangani timnas Indonesia menuju kesuksesan.